Ada sedikit cinta yang masih tersisa.
Hanya terbujur didalam ruang dada, dan bukan diantara mata, telinga ataupun segala indera.
Sebab semua itu hanyalah sisa dari masa lalu.
Dan masa itu masih meratap didalam keningku.
Seperti warna yang jatuh dari bibir mentari. Begitu indah meski semuanya berlalu.
Tak akan pernah bisa aku pijak. Karena itu semua hanya warna, yakni sesuatu yang hanya bisa aku tatap dan nikmati. Bukan untuk aku peluk, dan bukan untuk aku kecup dengan mesra.
Hanya mampu terlihat dan mampu terucap dengan kata-kata yang jelas singkat, akan tetapi rasa itu tak akan pernah bisa bagaimana dia mesti terungkap.
Bagaimana dia mesti terungkap, dengan jelas dan singkat.
Ah, ini semua ternyata muncul dari secangkir kehangatan yang aku peluk dengan lekat. Hingga akhirnya membasahi diriku sendiri dari kedua bola mata. Sungguh sejak lama…
Manis, memang terlampau manis,
seperti secangkir kopi hangat yang aku teguk saat ini. Tak pernah kupungkiri, ada juga rasa pahit didalamnya. Hanya saja, semua itu bagaikan candu walau sebagai penawar dingin yang meliputi hingga menusuk kedalam jiwa.
Dalam romansa yang sedikit demi sedikit menghilang, berjalan diatas jejak yang tak akan aku lupakan.
Suatu saat akhirnya hanya akan tersisa dua jenis jawaban pasti.
Ya dan tidak.
Sampai saat ini aku masih belum mengetahui jawaban apa yang akan terjadi. Sebab takdir belum terukir dan semua itu tergantung pula apa yang akan aku dan kamu lakukan saat ini.
Bandung, 11 Desember 2010. [22:22]