Embun dan udara pagi masih setia menemani ketika aku terbangun dari langkah-langkah mimpi. Jari jemari aku sapu dengan dedaunan basah. Dingin menembus kulit dan paru-paru. Seirama dengan isi pesan singkat yang masuk ke handponeku tadi malam.
Meski aku tak perduli akan tetapi hal itu nyata tak bisa terpungkiri.
Melepas kepenatan membuat aku menyusuri sawah dan kebunku, menyeberangi sebuah aliran sungai yang hampir habis terkuras kemarau. Meski begitu tampak bagiku bahwa air itu mengalir tak terputus. Air itu bergerak bebas beraturan meski kadang sesekali berbenturan dengan bebatuan dihadapannya. Pergerakan hanyalah sudut pandang relatif antara perubahan jarak dan posisi. Bagi diriku yang mengamati air, air itu bergerak ke muara. Andai air dapat mengamati diriku, bagi air itu dirikulah yang bergerak menjauhi dirinya.
Kehidupan ini relatif terhadap sudut pandang manusia yang menjalaninya. Entah kehidupan yang menjauhi diriku, entah diriku yang menjalani kehidupan. Sama halnya dengan permasalahan yang kini aku rasakan. Entah siapa yang membuatnya muncul kepermukaan. Keadaanlah yang akhirnya tampak jelas nyata.
Meski begitu inilah harga tak ternilai sebuah kehidupan. Tak akan pernah ada sesuatu yang berarti kebahagiaan tanpa adanya arti kesedihan. Kehidupan memiliki denyut keberpasangan yang berirama dalam mengisi kehampaan. Sama seperti sungai itu, hulu dan muara adalah satu bagian tak terpisahkan dari sebuah sungai. Dan aku hanya berada diantaranya, dimanapun berada, slama itu adalah sebuah sungai. Sudut pandang yang membuat aku berada diantaranya, bahkan keluar di akhir setiap sudutnya.
Jumat 09.09.2011



